<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468</id><updated>2011-07-28T05:06:07.413-07:00</updated><title type='text'>Zulkifli</title><subtitle type='html'>Kata-kata itu sebenarnya tdk mempunyai makna, untuk menjelaskan perasaan. Kita boleh membentuk seribu kata-kata dan bahasa, tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468.post-2372436203532220943</id><published>2009-07-21T02:22:00.000-07:00</published><updated>2009-07-21T03:34:35.054-07:00</updated><title type='text'>KEPAK SAYAP BURUNG TINGANG</title><content type='html'>Adalah sebuah perjalanan yang sangat berharga dan syarat pengalaman, saat aku dan teman-teman satu tim melakukan evaluasi sebuah proyek reboisasi yang dibiayai dana alokasi khusus (DAK), sebenarnya ini bukanlah tour ataupun perjalanan rekreasi namun kedua unsur itu terasa mewarnai perjalanan tersebut, saat kami menemui hal-hal yang menarik disepanjang perjalanan baik saat bertolak ataupun saat pulang dari lokasi kegiatan. Itu berlangsung ketika tim kami yang beranggotakan beberapa rekan dari Lembaga Swadaya Masyarakat dan wartawan mengevaluasi dan melakukan survei lapangan pada pelaksanaan proyek reboisasi 2008 tersebut yang konon menurut informasi banyak bermasalah di sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah yaitu kecamatan Mantangai dan secara geografis wilayahnya terbagi 3 (tiga) Mantangai Hulu, Tengah dan Hilir. Masyarakatnya hidup di sepanjang sungai yang membelah daerah itu dan hampir semua kegiatan dilakukan di sisi sungai seperti memantat/menyadap karet, mengan/berburu, marengge/menangkap ikan dan kegiatan lain industri bangsaw atau sirkel yang mana sekarang sudah banyak yang tidak beroperasi karna adanya penertiban. Dulunya kecamatan ini cukup kaya karna hasil hutannya belakangan daerah ini terkesan tertinggal dari kecamatan lainnya, salah satu penyebab banyak anggota masyarakat kehilangan mata pencaharian kegiatan industri pengolahan kayu atau bangsaw/sirkel karna sudah banyak yang tutup dan menyisakan masalah hilangnya lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     Kami melakukan perjalanan lewat darat dengan menggunakan sepeda motor melewati beberapa perkampungan dan daerah hunian transmigrasi dimana sebahagian daerah ini juga merupakan eks lokasi lahan gambut atau yang disebut lahan sejuta hektare yang sudah banyak menimbulkan dan menyisakan permasalahan, meskipun infrastruktur jalan di daerah inisudah banyak yang dibuka sehingga memudahkan akses transportasi darat, kami melakukan perjalanan estafet dengan menyinggahi beberapa lokasi yang kami anggap dapat memberikan masukan dan data yang kami butuhkan termasuk melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat, kadang ada beberapa tempat yang cukup rawan dan medan yang sulit untuk dilalui kadang membuat kami sedikit takut dan khawatir kadang pula kami temui hal-hal yang menyenangkan seperti saat melihat kera-kera bergelantungan bermain di atas pepohonan, menyaksikan keindahan burung-burung tingang (bucerotidae)  yang hinggap dan mengepakan sayapnya di dahan pohon yang tinggi saat mentari akan terbenam, burung tingang adalah jenis burung di Kalimantan Tengah yang memiliki keelokan dan keindahan dan jenis burung ini telah memberikan inspirasi pada hal-hal yang bersentuhan dengan seni dan budaya bagi masyarakat Kalimantan Tengah, secara ekologi burung ini juga membantu regenerasi hutan konon burung tingang menyebarkan biji, sungguh menyaksikan itu seperti menikmati puisi alam. Hal yang unik dan mengandung nilai historial ketika kami singgah di desa Keladan seberang di sana cukup banyak terdapat makam leluhur warisan kepercayaan asli suku dayak yakni Kaharingan, makam itu disebut sandung bentuknya seperti bangunan rumah yang cukup tinggi terletak tidak begitu jauh dari pemukiman warga di pinggiran sungai. Menyaksikan dan keluguan dan kepolosan masyarakat setempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, anak-anak yang bermain begitu merdekanya walau hanya dengan permainan tradisionil, ibu-ibu dan gadis-gadis cantik yang menganyam tikar rotan itulah pemandangan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kami berhenti di beberapa lokasi sambil mengevaluasi hal-hal yang kami butuhkan sambil membuat catatan-catatan yang di anggap penting. Walau tidak semua tempat sempat kami kunjungi, kami bisa menarik kesimpulan betapa keluguan dan kepolosan masyarakat di sana yang sudah banyak dibodohi oknum-oknum yang hanya ingin mengeruk keuntungan materi, seperti halnya beberapa petani yang berhak dan ingin benar-benar melaksanakan kegiatan reboisasi dengan bantuan dana untuk bibit dari pemerintah malah banyak yang tidak mendapatkan, dan nama-nama yang terindikasi fiktif yang muncul dalam nama kelompok tani. Belum lagi adanya tumpang tindih lahan-lahan di saerah itu sungguh hal yang banyak merugikan warga setempat. Sampai hari ini aku masi menyimpan kesan yang dalam atas perjalanan yang sangat berharga ini, dalam hati kecil aku hanya berharap dan berdoa kelak Mantangai dan masyarakatnya bisa lebih maju dan hak-hak masyarakat dalam proses pembangunan benar-benar terpenuhi dan diwujudkan secara adil.- ingin lebih seru? tentang kisah perjalanan ini, kunjungi www.zulkiflinet.co.cc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1361668496946758468-2372436203532220943?l=zul16.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/2372436203532220943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1361668496946758468&amp;postID=2372436203532220943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/2372436203532220943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/2372436203532220943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/2009/07/kepak-sayap-burung-tingang.html' title='KEPAK SAYAP BURUNG TINGANG'/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468.post-4759153204122836242</id><published>2009-03-06T02:49:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T02:59:01.622-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SbEA3Vd7PpI/AAAAAAAAAF4/XHMwNv5AJCY/s1600-h/logo_pemilu.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SbEA3Vd7PpI/AAAAAAAAAF4/XHMwNv5AJCY/s200/logo_pemilu.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310026386301992594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SbEAvIVVtQI/AAAAAAAAAFw/r9mpwCx2GDY/s1600-h/thinker.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SbEAvIVVtQI/AAAAAAAAAFw/r9mpwCx2GDY/s200/thinker.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310026245337363714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida console,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 127);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pemilu Legislatif Idealisme dan Krisis Kepercayaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;ditulis oleh : ZULKIFLI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:lucida console,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;    &lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Beberapa pekan lagi Pemilu legislatif akan dilaksanakan, tepatnya pada 9 April 2009. Pemilu untuk memilih dan menentukan wakil-wakil rakyat yang akan duduk di DPR Pusat, DPRD Propinsi dan Kabupaten. Berbeda dengan pemilu legislatif sebelumnya sebab diwarnai dengan perubahan-perubahan aturan serta tekhnis pelaksanaanya. Jika sebelumnya pencalegkan berdasarkan nomor urut partai politik, maka sekarang menggunakan sistem ranking atau perolehan suara terbanyak dengan telah dikeluarkannya putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pada Pemilu legislatif mendatang diikuti  44 (empat puluh empat)  kontestan partai politik peserta pemilu, 6 (enam) kontestan diantaranya adalah parpol lokal di Aceh.  Begitu pula  dengan tekhnis pelaksanaan pada pemilu-pemilu sebelumnya dengan mencoblos gambar caleg , maka pada pemilu 2009  ini hanya dengan menconteng nama caleg, kecuali untuk calon anggota DPD maka pemilih akan menconteng gambar calon utusan daerah. Sejauh ini KPU sudah menyiapkan segala sesuatu kebutuhan baik perangkat peraturan, teknis pelaksanaan, sosialisasi maupun kebutuhan logistik dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apakah pemilu legislatif kali ini bisa menjadi pemilu berkualitas, serta memperoleh hasil maksimal dalam perolehan suara? jawabnya hanya bisa dipastikan setelah pesta demokrasi ini dilaksanakan. Tapi setidaknya terlihat gambaran dengan mengacu  pada kondisi yang berkembang saat ini, bayang-bayang tidak maksimal perolehan suara walaupun dengan masa kampanye panjang serta dana besar yang sudah dikeluarkan para caleg.&lt;br /&gt;Hal itu belum tentu bisa menjamin dapat meminimalisir angka golput, kekuatiran akan banyaknya jumlah suara rusak/tidak sah mungkin salah satu penyebab tidak maksimalnya perolehan suara, bahkan dengan keluarnya fatwa haram golput dari MUI adalah sebuah bentuk kekuatiran akan tingginya pemilih golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tengok persoalan-persoalan kebelakang dan sekarang di masyarakat apa yang sedang berlangsung? tidak adanya perubahan yang signifikan dalam perbaikan bangsa ini sehingga terjadi krisis kepercayaan  dan penurunan minat masyarakat terhadap parpol-parpol dan para caleg. Cukup beralasan kekuatiran meningkatnya jumlah golput karna krisis kepercayaan.&lt;br /&gt;Jualan politik, janji manis nan muluk ketika mengharap dukungan masyarakat&lt;br /&gt;tetapi setelah terpilih seperti kacang lupa pada pabriknya sudah menjadi efek jera bagi masyarakat dengan hal ini. Belum lagi fakta kasus suap, kasus korupsi serta kasus asusila yang dilakukan oleh oknum anggota dewan masih membekas dalam ingatan masyarakat. Terlebih dalam kondisi kehidupan masyarakat yang serba sulit, mahalnya bahan pokok sempitnya lapangan kerja, hukum yang bisa diperjualbelikan, tingginya biaya pendidikan dan kesehatan merupakan persoalan-persoalan klasik dalam masyarakat yang terus berlangsung dan sampai dimanakah para anggota dewan yang terhormat bisa memperjuangkan aspirasi-aspirasi dari rangkaian persoalan dalam masyarakat itu. Sebagian masyarakat sudah bosan dengan buaian janji-janji mereka butuh fakta dan realitas, rakyat tidak akan sempat memikirkan politik dan berpolitik jika perut kosong.&lt;br /&gt;Sejauh ini  sudah banyak caleg-caleg yang loncat partai politik dengan berbagai sebab dan alasan, tetapi tanpa disadari ataupun tidak hal itu juga dapat menyebabkan krisis kepercayaan di masyarakat pada figur-figur yang ditawarkan  karna berimplementasi pada pudarnya pencitraan dan idealisme berpolitik.&lt;br /&gt;    Tentu semua hal itu harus menjadi pelajaran berharga dan bahan evaluasi bagi para caleg yang akan bertarung pada pemilu 2009.&lt;br /&gt;Tugas kita sebagai masyarakat untuk memfilterisasi caleg-caleg yang akan berkompetisi, selektif dalam menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat.&lt;br /&gt;Kiranya tetap "positif thinking" masih ada dari sekian banyak calon wakil rakyat itu orang-orang yang beridealisme tinggi sebagai politikus ideal.&lt;br /&gt;Pro kontra fatwa haram golput versi MUI setidaknya kriteria caleg yang disyaratkan bisa menjadi bagian acuan dalam menentukan pilihan (jujur-amanah-integritas) . Kedepan kita butuh wakil rakyat yang mampu mengemban amanat moralitas politik, dapat membantu rakyat keluar dari krisisnya dan membangun kehidupan masa depan bangsa ini lebih baik.&lt;br /&gt;Pada mereka-merekalah tetap berharap menitipkan aspirasi. Kita yakin di republik ini masih ada figur-figur yang aspiratif, bersih, memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dalam berdemokrasi memiliki kualitas moral tinggi dan mengartikulasikan kepentingan rakyat. Tidak ada larangan menyandarkan pilihan atas dasar kedekatan geografis, hubungan emosional dan historial, tetapi  "logika modern" harus tetap diutamakan.&lt;br /&gt;Janganlah sampai kita terjebak pragmatisme dalam berpolitik karna krisis dan keterpurukan, sebaliknya jadikan krisis dan keterpurukan itu sebagai sebuah spirit untuk melakukan perubahan politik kearah yang lebih baik.-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1361668496946758468-4759153204122836242?l=zul16.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/4759153204122836242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1361668496946758468&amp;postID=4759153204122836242' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/4759153204122836242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/4759153204122836242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/2009/03/pemilu-legislatif-idealisme-dan-krisis.html' title=''/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SbEA3Vd7PpI/AAAAAAAAAF4/XHMwNv5AJCY/s72-c/logo_pemilu.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468.post-7314519920613094310</id><published>2009-02-28T09:20:00.001-08:00</published><updated>2009-02-28T13:29:37.569-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/Salyh9owqiI/AAAAAAAAAFQ/mI1OBIBZLfc/s1600-h/created.at.www.FotoTrix.com.jpeg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 152px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/Salyh9owqiI/AAAAAAAAAFQ/mI1OBIBZLfc/s200/created.at.www.FotoTrix.com.jpeg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307899563639613986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-style: italic; font-family: webdings; font-weight: bold;" class="fontjudulblog"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membaca Karna, Membidik Keabadian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: webdings;font-size:100%;" &gt; Hasil pertempuran pada akhirnya memang ditentukan oleh banyak faktor. Ketrampilan tempur yang ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran (lihat meditasi Arjuna saat membidik kepala burung), skenario sang “dalang” dengan misteri-misteri “kebetulan”, serta pilihan keputusan yang diambil, menjadi penting dalam menentukan jalannya cerita. Akhir yang bagaimanakah kira-kira di ujung jalan yang sedang kita tempuh ini?&lt;/span&gt; [&lt;a href="http://www.titiknol.com/prosa.php?itemid=570"&gt;baca++&lt;/a&gt;] dari titiknol.com  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1361668496946758468-7314519920613094310?l=zul16.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/7314519920613094310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1361668496946758468&amp;postID=7314519920613094310' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/7314519920613094310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/7314519920613094310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/2009/02/kata-kata-itu-sebenarnya-tdk-mempunyai.html' title=''/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/Salyh9owqiI/AAAAAAAAAFQ/mI1OBIBZLfc/s72-c/created.at.www.FotoTrix.com.jpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468.post-3829161598846072106</id><published>2009-01-28T07:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T06:05:08.485-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pers Indonesia, Pergulatan untuk Kebebasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh Lukas Luwarso*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak peristiwa masih akan terjadi dan bisa dicatat, atau terlupakan, dalam&lt;br /&gt;perkembangan  Pers Indonesia. Pergulatan menuju pers bebas--dan&lt;br /&gt;beretika--sedang berkecamuk. Jatuhnya Soeharto, Mei 1998, segera memberi&lt;br /&gt;ruang terbuka bagi sesak nafas yang diderita Pers Indonesia hampir selama&lt;br /&gt;tiga dasawarsa. Sesaat kemudian, serbuan demam kebebasan mewabah.&lt;br /&gt;Suara-suara cemas terhadap anarkhi--dipicu oleh pers yang tak&lt;br /&gt;terkontrol--demikian kata sejumlah kalangan—ramai disuarakan. Tuntutan&lt;br /&gt;dikembalikannya “era normal” muncul dari sejumlah wakil rakyat, pejabat&lt;br /&gt;pemerintah dan segolongan masyarakat: Pers Indonesia sudah kebablasan[1],&lt;br /&gt;kontrol dan tindakan tegas harus kembali diterapkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun, yang tersisa dari jatuhnya kekuasaan tiran adalah kevakuman otoritas.&lt;br /&gt;Gagasan mengontrol kebebasan (pers) yang baru didapat, tidak mendapat&lt;br /&gt;tempat. Justru Departemen Penerangan[2], lembaga kontrol yang dua dasawarsa&lt;br /&gt;lebih menjadi hantu pencabut nyawa bagi pers,  dibredel oleh Presiden&lt;br /&gt;Abdurrahman Wahid, pada Oktober 1999. Presiden Wahid yang baru terpilih itu&lt;br /&gt;menegaskan, informasi adalah urusan masyarakat, bukan lagi menjadi urusan&lt;br /&gt;pemerintah. Pembubaran Departemen Penerangan  menandai hilangnya kontrol&lt;br /&gt;negara, selanjutnya siapa mengontrol pers? Masyarakat, tentunya. Itu&lt;br /&gt;sebabnya dua tahun terakhir ini (kelompok tertentu) masyarakat aktif&lt;br /&gt;“mengontrol” pers, dengan menduduki kantor redaksi, mengintimidasi wartawan&lt;br /&gt;dan memaksakan agar versi mereka dimuat di pers. Babak baru perkembangan&lt;br /&gt;pers Indonesia sedang berlangsung, belum ketahuan ke mana arahnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sudah diketahui, catatan sejarah pers di Indonesia tidak lain  adalah&lt;br /&gt;rekaman tekanan, intimidasi dan pemberangusan. Pers Indonesia terperangkap&lt;br /&gt;dalam ranjau-ranjau peraturan dan sensor yang dipasang pemerintah.&lt;br /&gt;Pengalaman di Indonesia, kebebasan itu seakan-akan merupakan berkah atau&lt;br /&gt;hadiah dari penguasa baru—yang muncul menggantikan penguasa otoriter&lt;br /&gt;sebelumnya. Periode kebebasan pers pernah dinikmati media di Indonesia pada&lt;br /&gt;tahun 1945-1949, ketika merdeka dari penguasa kolonial Belanda dan Jepang;&lt;br /&gt;kemudian tahun 1966-1972, setelah tumbangnya Soekarno, dan paska tumbangnya&lt;br /&gt;Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: right; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Jatuhnya Soeharto ternyata tidak dengan sendirinya mengakhiri berbagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;persoalan. Periode transisi, di era Presiden Habibie berlanjut ke Presiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Abdurrahman Wahid, suasana keterbukaan justru memunculkan berbagai persoalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;baru yang lebih kompleks, tidak sekadar hitam-putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Rezim Habibie, tidak punya pilihan lain, selain harus melakukan liberalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;dan  itu pun bukan tanpa ancaman.  Era Abdurrahman Wahid memperlihatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;kesungguhan untuk mengadopsi kebebasan pers, namun masih harus ditunggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;sejauh mana keseriusan rezim Gus Dur-Megawati menegakkan kebebasan pers,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;mengingat basis pendukung dua pemimpin ini (Banser NU dan Satgas PDI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Perjuangan) kini terbukti cenderung merongrong kebebasan pers melalui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;aksi-aksi intimidasi terhadap pers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Ancaman terhadap kebebasan pers yang semula datang dari pemerintah melalui&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;berbagai aturan represif,  beralih wujud melalui tekanan massa serta ancaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;internal: tumbuhnya penerbitan pers  yang sensational dan tidak mengindahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;etika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Negara Koloni: Represi Silih Berganti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Awal mula tradisi represi terhadap Pers Indonesia adalah warisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;pemerintahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;kolonial.  Peraturan pertama mengenai pers di jaman Negara Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;dituangkan  pada 1856, dalam Reglement op de Drukwerken in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Nederlandsch-Indie, yang bersifat pengawasan preventif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Aturan ini pada 1906 diperbaiki menjadi bersifat represif, yang menuntut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;setiap penerbit mengirim karya cetak ke pemerintah sebelum dicetak. Dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;puluh lima tahun kemudian, pada 1931, pemerintah kolonial melahirkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Persbreidel Ordonnantie. Aturan ini memberikan hak kepada Gubernur Jenderal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;untuk melarang penerbitan yang dinilai bisa “mengganggu ketertiban umum”[3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Selain itu pemerintah kolonial Belanda juga memiliki pasal-pasal terkenal,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Haatzaai Artikelen, yang mengancam hukuman terhadap siapapun yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;menyebarkan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;pemerintah Nederland atau Hindia Belanda—berlaku sejak 1918.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selanjutnya, pada jaman pendudukan Jepang., untuk wilayah Jawa dan Madura&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;diterapkan Undang-undang No.16 yang memberlakukan sistem lisensi dan sensor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;preventif. Setiap penerbitan cetak harus memiliki ijin terbit serta melarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;penerbitan yang dinilai memusuhi Jepang. Aturan itu masih diperkuat lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dengan menempatkan shidooin (penasehat) dalam staf redaksi setiap surat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kabar. Tugas “penasehat” ini sesungguhnya adalah mengontrol  dan menyensor,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bahkan adakalanya menulis artikel-artikel dengan memakai nama para anggota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;redaksi.[4]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sejumlah aturan yang diterapkan pada era penjajahan itu  ternyata tetap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dipelihara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;oleh  pemerintahan Republik Indonesia, setelah memproklamasikan kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Misalnya ketentuan yang tertuang dalam  Persbreidel Ordonnantie[5], terus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dipakai dan secara formal baru diganti pada 1954. Mengikuti perkembangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;politik, pada 14 September 1956, Kepala Staf Angkatan Darat, selaku Penguasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Militer, mengeluarkan peraturan No. PKM/001/0/1956. Pasal 1 peraturan ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menegaskan larangan untuk mencetak, menerbitkan dan menyebarkan serta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;memiliki tulisan, gambar, klise atau lukisan yang memuat atau mengandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kecaman atau penghinaan  terhadap presiden dan wakil presiden. Larangan itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;juga berlaku bagi tulisan dan gambar yang dinilai mengandung perenyataan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;permusuhan, kebencian atau penghinaan. Ketentuan yang  sangat mirip dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Haatzaai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Artikelen ini, kemudian dicabut setelah diprotes kalangan pers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Mengikuti penerapan situasi darurat perang (SOB), , Penguasa Militer Daerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Jakarta Raya mengeluarkan ketentuan ijin terbit pada 1 Oktober 1958.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pembredelan pers di era Soekarno banyak terjadi setelah pemberlakuan SOB, 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Maret 1957, termasuk penahanan sejumlah wartawan. Aturan soal ijin terbit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;bagi harian dan majalah  kemudian dipertegas dengan Penpres No.6/1963[6].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain Surat Ijin terbit, setelah meletus Peristiwa Gerakan 30 september&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;1965, berlaku pula Surat Ijin Cetak (SIC) yang dikeluarkan oleh  Pelaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Khusus (Laksus) Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;(Kopkamtibda). Pers Indonesia saat itu dikepung dengan ketentuan SIT, SIC,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;serta ada lagi: Surat Ijin Pembagian Kertas (SIPK), kertas tidak akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;diberikan kepada media yang dinilai tidak patuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Era Orde Baru: Bredel Enggan Berlalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;        Aturan yang menindas pers itu terus dilestarikan pada era&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Soeharto, represi sudah dijalankan bahkan sejak pada awal era Orde Baru—orde&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang menjanjikan keterbukaan. Sejumlah Koran menjadi korban, antara lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;majalah Sendi terjerat delik pers, pada  1972, karena memuat tulisan yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dianggap menghina Kepala Negara dan keluarga. Surat ijin terbit Sendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dicabut, pemimpin redaksi-nya dituntut di pengadilan.  Setahun kemudian,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;1973, Sinar Harapan, dilarang terbit seminggu karena dianggap membocorkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;rahasia negara akibat menyiarkan Rencana Anggaran Belanja yang belum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dibicarakan di parlemen.[7]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada 1974, setelah meledak Persitiwa Malari, sebanyak 12 penerbitan pers[8]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dibredel,  melalui pencabutan Surat Ijin Terbit (SIT). Pers dituduh telah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“menjurus ke arah usaha-usaha  melemahkan sendi-sendi kehidupan nasional,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dengan mengobarkan isu-isu seperti modal asing, korupsi, dwi fungsi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kebobrokan aparat pemerintah, pertarungan tingkat tinggi; merusak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan nasional; menghasut rakyat untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bergerak mengganggu ketertiban dan keamanan negara; menciptakan peluang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk mematangkan situasi yang menjurus pada perbuatan makar.” Pencabutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SIT ini dipertegas dengan  pencabutan Surat Ijin Cetak (SIC) yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dikeluarkan oleh Laksus Kopkamtib Jaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;        Pemberangusan terhadap pers kembali terjadi pada 1978, berkaitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dengan maraknya aksi mahasiswa menentang pencalonan Soeharto sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;presiden. Sebanyak tujuh surat kabar di Jakarta (Kompas, Sinar Harapan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore) dibekukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;penerbitannya untuk sementara waktu hanya melalui telepon,[9] dan  diijinkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terbit kembali setelah masing-masing pemilik Koran tersebut meminta maaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kepada  pemimpin nasional (Soeharto).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;[10]&lt;br /&gt;Kisah pembredelan di era Soeharto terus berlanjut. Era 1980-an meminta&lt;br /&gt;korban antara lain: pada 1982 majalah Tempo ditutup untuk sementara waktu,&lt;br /&gt;ketika menulis peristiwa kerusuhan kampanye pemilu di Lapangan Banteng.&lt;br /&gt;Koran Jurnal Ekuin, dilarang terbit pada Maret 1983 oleh Kopkamtib akibat&lt;br /&gt;menyiarkan berita penurunan patokan harga ekspor minyak Indonesia yang&lt;br /&gt;merupakan informasi off the record. Korban berikutnya adalah majalah Expo&lt;br /&gt;(Januari 1984) setelah memuat serial tulisan mengenai Seratus Milyader&lt;br /&gt;Indonesia. Tulisan tersebut dinilai telah “melakukan penyimpangan terhadap&lt;br /&gt;ketentuan perundangan yang mengatur manajemen penerbitan pers”.&lt;br /&gt;Dua bulan kemudian giliran majalah Topik akibat menulis editorial Mencari&lt;br /&gt;Golongan Miskin  (Topik, 14 Februari 1984) dan menurunkan wawancara imajiner&lt;br /&gt;dengan Presiden Soeharto berjudul Eben  menemui Pak Harto. Tulisan pertama&lt;br /&gt;dinilai “cenderung beraliran ekstrim kiri dan ingin mengobarkan pertentang&lt;br /&gt;kelas”, sedangkan tulisan kedua dianggap “bernada sinis, insinuatif dan&lt;br /&gt;tidak mencerminkan pers bebas dan bertanggungjawab.”  Bulan Mei 1984,&lt;br /&gt;majalah Fokus dilarang terbit dan dicabut SIT-nya  setelah menurunkan&lt;br /&gt;tulisan yang dianggap dapat mempertajam prasangka sosial. Berikutnya, pada 9&lt;br /&gt;Oktober 1986, koran Sinar Harapan dilarang terbit.[11] Deretan pembredelan&lt;br /&gt;itu terus berlanjut dengan korban koran Prioritas, tabloid Monitor, majalah&lt;br /&gt;Senang, hingga pada 21 Juni 1994 ketika pemerintah membunuh Tempo, Editor&lt;br /&gt;dan Detik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers Pancasila: Produk Asli Indonesia&lt;br /&gt;Pada era Orde Baru, pemerintahan Soeharto secara cerdik berhasil merumuskan&lt;br /&gt;sistem pers baru yang “orisinil” yakni  Pers Pancasila, satu labelisasi gaya&lt;br /&gt;Indonesia dari konsep development journalism (atau dalam kategori  Siebert,&lt;br /&gt;Peterson, dan Schramm termasuk dalam jenis social responsibility pers).&lt;br /&gt;Konsep “Pers Pembangunan” atau  “Pers Pancasila” (sering didefinisikan&lt;br /&gt;sebagai bukan pers liberal juga bukan pers komunis) secara resmi dirumuskan&lt;br /&gt;pertama kali dalam Sidang Pleno Dewan Pers ke-25 di Solo pada pertengahan&lt;br /&gt;1980-an.. Rumusan tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;Pers Pembangunan adalah Pers Pancasila , dalam arti pers yang orientasi&lt;br /&gt;sikap dan tingkah lakunya berdasar nilai-nilai Pancasila dan UUD 45. Pers&lt;br /&gt;Pembangunan adalah Pers Pancasila, dalam arti mengamalkan Pancasila dan UUD&lt;br /&gt;45 dalam pembangunan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa,&lt;br /&gt;bernegara, termasuk pembangunan pers itu sendiri. Hakekat Pers Pancasila&lt;br /&gt;adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggungjawab dalam&lt;br /&gt;menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif,&lt;br /&gt;penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif. Melalui&lt;br /&gt;hakekat dan fungsi itu Pers Pancasila mengembangkan suasana saling percaya&lt;br /&gt;menuju masyarakat terbuka yang demokratis dan bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Pers Pancasila merupakan cerminan keinginan politik yang kuat dan&lt;br /&gt;ideologisasi  korporatis saat itu yang menghendaki  pers sebagai alat&lt;br /&gt;pemerintah. Akibatnya fungsi pers sebagai “penyebar informasi yang benar dan&lt;br /&gt;obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang&lt;br /&gt;konstruktif”—seperti didefinisikan dalam Pers Pancasila, tidak bisa&lt;br /&gt;terwujud. Pers Indonesia periode akhir 1970-an hingga 1998 semata-mata&lt;br /&gt;menjadi corong (mouthpiece) pemerintah,  kehilangan independensi dan fungsi&lt;br /&gt;kontrolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pembatasan yang dibuat rezim Soeharto  membuat wartawan tak&lt;br /&gt;bebas menulis. Pada era ini lah muncul apa yang disebut--secara&lt;br /&gt;sinis—sebagai “budaya telepon”. Peringatan melalui telepon ini bisa&lt;br /&gt;dilakukan oleh siapa saja di kalangan aparat pemerintah, untuk mencegah&lt;br /&gt;media menulis laporan tertentu yang tidak disukai pemerintah. Selain itu&lt;br /&gt;pada pertengahan 1980-an juga mulai lazim kebiasaan pejabat militer dan&lt;br /&gt;pemerintah berkunjung ke kantor redaksi media cetak untuk memberikan&lt;br /&gt;“informasi penting” dan ketentuan tak tertulis apa yang boleh dan tidak&lt;br /&gt;boleh ditulis. Berbagai bentuk sensorsip ini mendorong pengelola media&lt;br /&gt;menggunakan gaya bahasa eufimistik untuk  menghindarkan teguran dan&lt;br /&gt;pembredelan. Lebih jauh lagi pers Indonesia semakin pintar untuk melakukan&lt;br /&gt;swa-sensor (self censorship). Akibatnya  sebagian besar media cetak saat itu&lt;br /&gt;bisa dikatakan menjadi corong pemerintah. Apapun yang dikatakan pejabat&lt;br /&gt;tinggi  pemerintah dan militer akan dicetak dan dijadikan laporan utama&lt;br /&gt;(headline) oleh pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan, pers Indonesia yang terpasung saat&lt;br /&gt;itu juga berperan serta dalam melanggengkan kekuasaan rezim yang&lt;br /&gt;menindasnya. Sejumlah kiat pers agar tetap survive, ternyata secara tidak&lt;br /&gt;langsung ikut memperkuat cengkeraman rezim Soeharto. Pers dan wartawan&lt;br /&gt;Indonesia yang terbelenggu berperan besar dalam menginternalisasikan&lt;br /&gt;slogan-slogan rezim tanpa mencoba menelaah secara kritis (Slogan-slogan&lt;br /&gt;seperti: bahaya laten komunis, stabilitas demi pembangunan, ABRI/militer&lt;br /&gt;sebagai dinamisator, termasuk slogan Pers Pancasila dan Pers Pembangunan&lt;br /&gt;adalah contoh slogan-slogan rezim yang disebarkan oleh pers dan harus&lt;br /&gt;ditelan oleh masyarakat sebagai kebenaran). [12]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers dan wartawan yang tidak bebas,  ikut mengajarkan rasa takut--terhadap&lt;br /&gt;kebebasan--pada masyarakat. Atau setidaknya mereka bersikap masa bodoh,&lt;br /&gt;sejauh keuntungan ekonomi masih diperoleh.  Di era rezim Soeharto,  sejak&lt;br /&gt;pertengahan 1980-an, pers Indonesia  mulai mencicipi buah  keuntungan  era&lt;br /&gt;pers  industri. Dalam pers  industri, bisnis informasi ternyata menjanjikan&lt;br /&gt;keuntungan besar, dan  tingkat kesejahteraan wartawan menjadi semakin baik.&lt;br /&gt;Namun keuntungan  finansial itu berbanding terbalik dengan  kepedulian&lt;br /&gt;sosial yang makin  menumpul. Peningkatan oplah dan perolehan iklan menjadi&lt;br /&gt;tujuan.  Akibatnya yang menjadi prioritas pers Indonesia—didukung&lt;br /&gt;pertumbuhan ekonomi yang tinggi--adalah perolehan keuntungan, bukan kualitas&lt;br /&gt;berita. [13]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Konsentrasi untuk mendapat keuntungan besar dan kesejahteraan materi dari&lt;br /&gt;bisnis pers  menjadi semacam eskapisme bagi wartawan.  Karena dalam situasi&lt;br /&gt;represif,  sulit bagi wartawan  untuk bisa mengeksplorasi kemampuan&lt;br /&gt;jurnalistiknya. Apalagi dengan  adanya “hantu” pencabutan lisensi Surat Izin&lt;br /&gt;Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).  Izin SIUPP benar-benar seperti nyawa bagi&lt;br /&gt;pers,  dan pemerintah adalah malaikat yang siap mencabut nyawa itu setiap&lt;br /&gt;waktu. Pencabutan SIUPP menjadi momok yang menakutkan bagi pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih-lebih  saat itu sangat sulit  untuk memperoleh  SIUPP. Kriteria&lt;br /&gt;untuk mendapat SIUPP tidak jelas,  dan  menjadi rahasia umum,  kalangan yang&lt;br /&gt;dekat dengan kekuasaan saja lah yang bisa mendapat  SIUPP baru. Sehingga&lt;br /&gt;muncul  dugaan SIUPP sengaja  dijadikan alat untuk menyeleksi kepemilikan&lt;br /&gt;pers. Selain itu, ketika pemerintah (Departemen Penerangan), pada akhir&lt;br /&gt;1980an, memutuskan untuk tidak lagi menerbitkan  SIUPP baru, selembar kertas&lt;br /&gt;perizinan itu nilainya menjadi amat mahal untuk diperjualbelikan. Melalui&lt;br /&gt;sistem lisensi ini lah negara (pemerintah) menguasai  “ruang publik”, bukan&lt;br /&gt;saja  media massa harus mendapat ijin agar terbit, rapat-rapat dan pertemuan&lt;br /&gt;publik (lebih dari lima orang) juga harus mendapat ijin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Ruang publik tersebut adalah “wilayah” yang bebas dari kontrol negara dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;modal. Setiap anggota masyarakat dapat saling berinteraksi, belajar dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berdebat tentang masalah-masalah publik tanpa perlu risau adanya campur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;tangan penguasa (politik dan ekonomi). Dan media massa merupakan salah satu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;ruang publik yang paling efektif untuk sarana itu. Namun, di Indonesia,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;ruang publik (media) telah dikuasai negara, akibatnya dalam praktek&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;jurnalisme di Indonesia, para wartawan lebih menempatkan ucapan pejabat,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;jenderal dan tokoh bisnis. Selain karena demi keamanan kelanjutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;penerbitan, juga berangsur-angsur muncul anggapan bahwa ucapan pejabat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pemerintah memberikan legitimasi yang kuat terhadap berita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Praktek jurnalisme semacam itu (news talking) selain aman juga lebih mudah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dilakukan oleh para wartawan—juga menguntungkan bagi perusahaan pers, karena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan dalam proses peliputan berita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sebaliknya, praktek news talking memberikan peluang besar bagi para politisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;(dan pengamat) untuk memanipulasi berita. Akibat lebih jauh dari praktek&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;jurnalisme ini adalah trend menonjolnya peran hubungan masyarakat (Humas)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kantor pemerintah dan perusahaan swasta yang siap menyediakan “segala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;informasi” untuk membantu kerja wartawan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Dengan maraknya “jurnalisme humas”, menyebabkan masyarakat semakin sulit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;memperoleh informasi yang benar tentang berbagai persoalan. Satu penelitian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang diadakan oleh Rizal Mallarangeng pada awal 1990 terhadap dua  harian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berpengaruh di Indonesia (Kompas dan Suara Karya) memperlihatkan besarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;ketergantungan dua media tersebut terhadap narasumber pejabat pemerintah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;atau birokrat. Sekitar 89,1 % berita  Suara Karya dan 69,1 % berita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;bersumber dari pernyataan birokrat dan pejabat. Sedangkan menyangkut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;orientasi pemberitaan, sekitar  86,6% berita Suara Karya dan 78.9% berita di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Kompas berisi dukungan terhadap kebijakan pemerintah.[14]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Menentang Tirani: Mencari Alternatif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pada era Soeharto terdapat tiga faktor utama penghambat kebebasan pers dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;arus informasi: adanya sistem perizinan terhadap pers (SIUPP), adanya wadah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;tunggal organisasi pers dan wartawan, serta praktek  intimidasi dan sensor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;terhadap pers. Faktor-faktor itu lah yang telah berhasil menghambat arus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;informasi dan memandulkan potensi pers untuk menjadi lembaga kontrol.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;               Wartawan Indonesia, selama 52 tahun, sejak Republik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Indonesia berdiri, cuma mengenal satu organisasi wartawan, Persatuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Wartawan Indonesia (PWI). Organisasi ini setiap kali terperangkap dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;korporatisme negara. Negara mengkooptasi PWI dan menggunakannya sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;operator untuk merepresi dan  mengintimidasi pers. Praktis, wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Indonesia tidak memiliki  organisasi yang bisa mewakili dalam memperjuangkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;hak, melindungi dan meningkatkan profesinya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sebaliknya, wartawan justru dikontrol dan dilumpuhkan secara sistematis oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;PWI.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pemerintahan Soeharto telah menciptakan mekanisme kontrol efektif terhadap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers melalui tekanan untuk self cencorship, peringatan, teguran dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pembredelan. Namun kontrol yang paling efektif justru dilakukan oleh orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers sendiri, melalui Dewan  Pers serta PWI. Pengurus dua organisasi ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dengan sadar memfungsikan diri sebagai operator pemerintah dalam menekan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada akhirnya tekanan memunculkan perlawanan, pemicunya justru pembredelan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;tiga media terkemuka Tempo, Detik, dan Editor, pada 21 Juni 1994. Berbeda&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;dari berbagai pembredelan pers yang sering terjadi di Indonesia, penutupan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;tiga media  itu, di luar dugaan,  memunculkan reaksi perlawanan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Ratusan wartawan bergabung dengan mahasiswa dan aktivis NGO melakukan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;demonstrasi pada hari-hari setelah pembredelan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Khusus di kalangan wartawan, reaksi keras ditujukan kepada PWI. Sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;satu-satunya organisasi wartawan yang ada, PWI tidak memrotes pembredelan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;itu, sebaliknya malah “bisa memahami” sikap yang diambil rezim Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Bukan rahasia lagi, PWI merupakan kepanjangan birokrasi Departemen&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Penerangan. Sehingga, bukannya membela kepentingan, hak-hak dan aspirasi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;wartawan, PWI justru menjadi mesin teror bagi wartawan. Kalangan wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;muda yang tidak puas atas sikap PWI ini pada 7 Agustus 1994 mendeklarasikan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;terbentuknya AJI sebagai wujud sikap “menolak wadah tunggal wartawan” dan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;sebagai organisasi alternatif bagi wartawan..&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Berdirinya AJI segera mengguncangkan hegemoni PWI, ini terbukti Departemen&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Penerangan dan PWI dengan sengit mencoba meniadakan kehadiran AJI.  PWI&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;memecat 13 anggotanya yang terlibat di AJI serta meminta perusahaan pers&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;tidak mempekerjakan wartawan AJI. Belasan wartawan AJI disingkirkan dari&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;kerja kewartawanan atau diminta mengundurkan diri.[15] Pemimpin redaksi yang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;dianggap tidak sejalan dengan garis pemerintah serta merta bisa dicabut&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;rekomendasinya dan hilang haknya sebagai pemimpin redaksi.  “Pokoknya orang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;AJI tidak boleh jadi wartawan, mereka boleh kerja di perusahaan pers sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;tukang sapu,” demikian ancam seorang pengurus PWI ketika mengintimidasi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;pemimpin redaksi D&amp;amp;R yang diketahui mempekerjakan orang AJI.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelahiran AJI memang dipacu oleh pembredelan Juni 1994.  Namun embrionya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dimulai ketika wartawan muda di sejumlah kota  mendirikan forum-forum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;diskusi wartawan.  Mereka adalah Forum Wartawan Independen di Bandung, Forum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diskusi Wartawan Yogyakarta, Pers Club di Surabaya, dan Solidaritas Jurnalis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Independen di Jakarta.  Forum-forum wartawan yang berdiri awal 1990 an  ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bersifat cair dan informal, karena untuk mendirikan organisasi formal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan di luar PWI,  saat itu,  hampir mustahil. Forum-forum diskusi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan semacam itu menjadi oase bagi kesumpekan wartawan yang menyadari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mereka tak memiliki organisasi yang bisa menyuarakan aspirasi mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kecenderungan Rezim Soeharto mengkooptasi dan cuma mengakui satu organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bagi setiap sektor organisasi masyarakat, mulai mendapat perlawanan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdirinya organisasi alternatif untuk menolak ketentuan pemerintah juga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terjadi sektor lain. Di kalangan buruh, pada 1992,  berdiri Serikat Buruh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejahtera Indonesia (SBSI)  sebagai tandingan terhadap Serikat Pekerja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seluruh Indonesia (SPSI) milik pemerintah. Untuk menandingi Dharma Wanita,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;telah muncul sejumlah kelompok NGO perempuan. Di kalangan mahasiswa,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dibentuk berbagai “komite”atau  “kelompok solidaritas” untuk  menandingi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;organisasi kemahasiswaan yang diakui pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berbagai kelompok alternatif itu menggalang jaringan oposisi.  Mencoba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tampil di lingkup politik mengambil alih fungsi partai politik dan parlemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang telah bungkam  lembaga eksekutif.  AJI  membangun jaringan di kalangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan muda di berbagai daerah, juga melakukan training dan pelatihan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kepada aktivis pers mahasiswa, serta mengorganisir aksi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain menjadi organisasi  alternatif, AJI juga menerbitkan media&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;alternatif tanpa SIUPP, Independen, sebagai sikap menolak politik perizinan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain Independen terdapat media yang aktif menyebarkan informasi alternatif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;seperti yang diterbitkan Pijar Indonesia, Kabar dari Pijar,  media-media&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kampus serta bulletin terbitan NGO. Berbagi media  tanpa SIUPP itu menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;alternatif bagi pembaca yang tidak puas dengan isi berita media mainstream.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Semula Independen diterbitkan sebagai newsletter bagi anggota AJI, dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berita mengenai seputar pers. Pada perkembangannya Independen juga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menyediakan ruang untuk berita-berita umum, khususnya  untuk  fakta-fakta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang tidak bisa disiarkan oleh pers  mainstream. Independen menampung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berita-berita  hasil reportase wartawan AJI, yang tidak mungkin dicetak oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers mainstream.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Salah satu laporan investigatif Independen yang banyak mendapat reaksi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;adalah edisi nomor 10, terbit menjelang Hari Pers Nasional, Februari 1995.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Dalam edisi itu, Independen  mengungkap kepemilikan saham-saham Menteri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Penerangan (saat itu) Harmoko dan keluarganya di beberapa media massa. Bagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kalangan pers,  kabar Menteri Penerangan Harmoko memiliki saham di berbagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;perusahaan pers, sudah banyak diperbincangkan, meskipun bisik-bisik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Independen menuliskannya dalam laporan utama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Laporan itu mengungkapkan, Menteri Penerangan atau keluarganya memiliki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;sebagian saham di 32 media massa, termasuk di sejumlah media terkemuka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sebagian dari saham di media itu memang tidak langsung atas nama Harmoko. Di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;sebuah mingguan ekonomi umpamanya, 28% sahamnya atas  nama salah seorang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;adik Harmoko. Bahkan di harian berbahasa Inggris terkemuka, The Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Post, 5% sahamnya atas nama istri Harmoko. Tentu saja, pemilikan saham  itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;sah-sah saja, sejauh saham itu diperoleh dengan membeli. Tapi, umum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;diketahui, saham-saham itu diperoleh keluarga Harmoko dengan gratis. Bahkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pemilikan sebagian saham itu digunakan sebagai syarat untuk  memperlancar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;keluarnya SIUPP baru.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Ketika wartawan Independen  mengkonfirmasi ke Menteri Penerangan Harmoko,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dia menolak menjawab, dan kemudian mengusir wartawan Independen yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;disebutnya sebagai “penerbitan liar”. Sebulan kemudian, pada 28 Maret 1995,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pemerintah resmi melarang Independen. Pada edisi Maret 1995 itu, Independen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;mengungkap tentang “Soeharto Sakit, Elit Politik Bertarung.” Majalah bulanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;setebal 32 halaman, yang  pernah mendapat penghargaan dari international,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;itu dilarang karena  dianggap telah  menyebarkan kebencian, mengadu domba,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menyebabkan keresahan dan menyebarkan permusuhan di kalangan masyarakat.[16]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Hantaman Krisis: Pers Menggeliat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;           Pers Indonesia  semakin kehilangan nyali pasca pembredelan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Tempo, Detik dan Editor. Khususnya periode setelah terjadi huru-hara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Peristiwa penyerbuan kantor PDI, 27 Juli 1996 sampai dengan Pemilu 1997.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pers mainstream cuma berharap agar tetap selamat di  hadapan  kekuasaan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;gampang marah, akibat konfigurasi politik yang bergeser, sambil mengais&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;keuntungan dari peluang pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pers mainstream yang  “mati suri”  selama tiga tahun (1994-1997), mulai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menggeliat bangun pada awal 1998. Badai krisis moneter yang ikut melanda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Indonesia pada akhir 1997 mempengaruhi kinerja pers. Banyak pers yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;terancam bangkrut akibat nilai rupiah yang terjun bebas, mengakibatkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;ongkos produksi harga kertas dan tinta mengangkasa. Manajemen  penerbitan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers  menerapkan penghematan total: jumlah halaman koran dikurangi, gaji&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;wartawan dipangkas sampai ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;wartawan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam kondisi sulit akibat krisis moneter ini Pers Indonesia semakin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ditekan. Ramainya aksi demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi, yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kemudian menjadi berita di berbagai media, memicu tuduhan pemerintah bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers Indonesia tidak proporsional dalam memberikan gambaran sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tentang situasi akhir-akhir ini.[17] Intimidasi terhadap pers pada awal 1998&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;langsung disuarakan oleh Presiden Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Bulan Januari 1998, Soeharto menuduh pemberitaan pers sebagai penyebab&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kepanikan masyarakat yang menyerbu toko dan supermarket untuk memborong&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;bahan kebutuhan pokok (panic buying). Bulan Februari, seusai penandatanganan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;nota kesepakatan dengan International Monetary Fund (IMF), Soeharto menuduh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pers Indonesia telah memanas-manasi situasi berkaitan dengan krisis moneter&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang sedang terjadi dan menyebabkan rupiah semakin turun. Pernyataan itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;ditegaskan lagi dalam sambutan pidato pertanggungjawaban presiden di depan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sidang Umum MPR, Maret 1998. Berbagai tekanan kepada pers itu tidak berujung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;pada pembredelan, mengingat pemerintahan Soeharto mulai goyah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;legitimasinya.[18]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Namun  rezim yang mulai sekarat itu masih mencoba menggertak pers dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kasus sampul Soeharto sebagai “Raja Sekop” di majalah D&amp;amp;R, awal Maret 1998.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Menteri Penerangan Hartono[19] bermaksud menuntut D&amp;amp;R ke pengadilan  karena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;melakukan penghinaan terhadap kepala negara, melecehkan konstitusi dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menurunkan martabat bangsa. Namun sebelum pengadilan berlangsung, D&amp;amp;R sudah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;terlebih dulu divonis. PWI menskorsing pemimpin redaksi D&amp;amp;R selama dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;tahun. Kasus D&amp;amp;R ini kemudian mengambang dan tidak ada penyelesaiannya..&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Berkah Internet: Pertarungan di Alam Maya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sejak 1995, Internet memainkan peran penting dalam penyebaran informasi di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;kalangan aktivis dan pengakses internet. Demam internet di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dijangkitkan oleh kehadiran Apakabar, mailing-list yang dikelola oleh John&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;McDougall dari Amerika. Melalui Apakabar berbagai pandangan disebarkan, dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang paling radikal hingga puritan, dari aktivis pro-demokrasi sampai aparat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;intel-militer. Selain berisi polemik berbagai pendapat dan pandangan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Apakabar juga menyebarkan informasi dari media massa, dalam dan luar negeri,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang berkaitan dengan situasi terbaru di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sukses Apakabar ini kemudian diikuti munculnya berbagai situs internet dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;mailing-list yang dikelola para aktivis di Indonesia. Para wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;eks-Tempo mengelola Tempo Interaktif, diikuti sejumlah mailing list seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;SiaR, KDPnet, AJInews, X-pos, Demidemokrasi, Indo-News.com, dll. Informasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang disebarkan melalui internet mampu memuaskan masyarakat yang haus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;informasi, materi dari internet seringkali di down-load dan difotokopi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;sehingga bisa dibaca oleh mereka yang tidak memiliki akses ke internet.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain itu, sensor yang menjadi  kebiasaan rezim Soeharto, dengan mem-black&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;out halaman koran atau majalah asing yang memuat tentang Indonesia, tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;bisa diterapkan di internet.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Materi yang paling banyak beredar di internet adalah menyangkut kekayaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Soeharto dan praktek KKN  rezim Orde Baru, disamping diskusi tentang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;demokrasi,  hak asasi manusia serta menebarkan gagasan oposisi. Selain itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;melalui internet aktivis pro-demokrasi juga saling berbagi informasi serta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;melakukan koordinasi, seperti menentukan waktu dan tempat aksi unjuk rasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Setelah rezim Soeharto tumbang, media on-line yang berorientasi profit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;semakin tumbuh menjamur, seperti detik.com, mandiri.com, satunet.com,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berpolitik.com, astaga.com. disamping itu sebagian besar media mainstream,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;seperti Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Forum, dll., juga memiliki versi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;on-line&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pasca Soeharto: Pers Bebas tanpa Etika?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;           Presiden Soeharto turun pada 21 Mei 1998, akibat  krisis ekonomi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dan karena arus informasi yang mengungkap kebobrokan pemerintahannya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;mengalir tanpa bisa dibendung-- melalui media alternatif dan internet.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain itu, pers juga  tidak lagi mau dibungkam. Saat-saat terakhir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;menjelang keruntuhannya, Presiden Soeharto mencoba mengintimidasi pers,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;dengan menuduh pers "tidak proporsional dan melakukan disinformasi”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Soeharto marah karena pers selalu menempatkan aksi demonstrasi mahasiswa dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;tuntutan reformasi  di halaman pertama. Biasanya pers Indonesia akan ciut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;nyalinya jika Soeharto marah, namun situasi memang sedang berubah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Perubahan pun terbuka dengan mundurnya Soeharto. Bagi para jurnalis itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;berarti peluang   terwujudnya jaminan kebebasan pers. Menteri Penerangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;yang baru, Junus Josfiah, segera merevisi ketentuan perizinan (SIUPP) dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;mencabut ketentuan wadah tunggal organisasi wartawan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Pemerintah tidak lagi bisa sewenang-wenang mencabut SIUPP—yang menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sangat mudah diperoleh. Lebih dari 1.600 SIUPP baru dikeluarkan periode Mei&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1998-Agustus 1999, sebelum ketentuan SIUPP akhirnya dicabut, dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;disahkannya UU No.40 tahun 1999 tentang Pers pada September 1999. Bandingkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dengan era Soeharto yang cuma mengeluarkan 241 perizinan selama 32 tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kekuasaannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perubahan lain yang drastis adalah diakuinya hak wartawan untuk mendirikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;organisasi baru di luar PWI. AJI setelah empat tahun diperlakukan sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;organisasi ilegal, mulai diakui keberadaannya. Diikuti dengan lahirnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berbagai organisai wartawan baru seperti Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(IJTI), PWI Reformasi, Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan lain-lain, yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;jumlahnya mencapai 40[20]. Memang terkesan ada inflasi organisasi wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan penerbitan baru.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi ini gejala wajar, semacam demam kebebasan yang sedang dirayakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;masyarakat (sebagaimana munculnya partai-partai politik baru, yang jumlahnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pernah mencapai 108 partai-- dari semula  3 partai). Para wartawan yang lama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terkungkung dalam satu wadah organisasi,  menemukan momentum untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengaktualisasikan diri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penerbitan pers yang semula dibatasi perizinan kemudian leluasa menerbitkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;media. Di kota-kota kabupaten, bahkan kecamatan, terbit tabloid baru. Di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ujung Pandang, misalnya, yang semula cuma memiliki  5 penerbitan pers,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kurang dari setahun melonjak mencapai lebih dari 45 penerbitan pers.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak pengusaha “dadakan” menerbitkan penerbitan pers dengan nama-nama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang  aneh atau lucu, yang mengesankan kurang serius, seperti Deru, Dobrak,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pantura, Amien Pos, Mega Pos, Posmo, X-file, Gugat (tabloid ini bermotto:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;trial by the press) Terbukti kemudian, banyak media yang cuma bertahan satu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;atau dua bulan, dan berhenti terbit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fenomena lain yang muncul, dan sempat memunculkan kekhawatiran kembalinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;media partisan, adalah terbitnya sejumlah tabloid yang “berafiliasi” dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;partai politik. Media partai itu antara lain Amanat milik Partai Amanat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nasional (PAN), Duta Masyarakat milik Partai Kebangkitan bangsa (PKB),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demokrat dikelola oleh Partai Demokrasi-Perjuangan (PDI-P),  Abadi milik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Partai Bulan Bintang (PBB) dan Siaga yang dianggap corong Partai Golkar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berbeda dengan media partisan era demokrasi liberal pada tahun 1950-an, yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;murni merupakan alat partai politik, media partisan jaman reformasi kali ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terbit dengan motif utama bisnis ketimbang  politik, karena  kelompok Jawa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pos Grup (Dahlan Iskan) lah yang mendanai penerbitan empat media parpol itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers Indonesia memang bisa lebih longgar menyampaikan informasi di era&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Presiden Habibie, namun kebebasan pers yang baru saja dinikmati itu bukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tanpa ancaman. Karakter rezim Habibie sulit diprediksi, mengingat sebagian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;besar pejabat pemerintah adalah “orang-orang Soeharto” juga. Sejumlah contoh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menunjukkan rezim baru Habibie berupaya mengontrol pers. Pada bulan Juni&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1998, Habibie melontarkan gagasan untuk menerapkan "sistem lisensi" pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan, dan sebulan kemudian dia mengeluarkan Peraturan Pemerintah untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengatur Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat (kedua usulan itu bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;digagalkan, berkat gencarnya perlawanan melalui aksi oposisi).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Habibie juga meminta militer menindak keras aksi-aksi demonstrasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;masyarakat. Bulan Juli 1998, acara Talk Show di stasiun Indosiar dihentikan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;secara tiba-tiba, oleh Menteri Sekretaris Negara (saat itu) Akbar Tanjung,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ketika acara sedang disiarkan, karena dianggap terlalu lugas dalam mengritik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Habibie. Tabloid Detak dan harian Merdeka dituntut oleh Menteri Dalam Negeri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Syarwan Hamid, karena membongkar keterlibatan Syarwan dalam Peristiwa 27&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Juli 1996 (penyerbuan kantor PDI).. Majalah Tajuk dituntut oleh Kodam Jaya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;atas  tulisan tentang keterlibatan militer dalam kerusuhan 13-15 Mei 1998.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemberitaan media yang gencar menyangkut penyadapan percakapan telepon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;antara Presiden Habibie dengan Jaksa Agung Andi M. Ghalib, telah menyebabkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;beberapa pemimpin redaksi diperiksa oleh kepolisian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada era ini jurnalisme radio mulai semarak, stasiun radio di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seperti Elshinta, Sonora dan Trijaya FM mulai memproduksi laporan berita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Langkah itu diikuti sejumlah stasiun radio di daerah seperti Nikoya, Banda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aceh. Permohonan untuk pendirian stasiun radio baru mencapai 32. Sedangkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk media televisi, meskipun lima stasiun TV yang terbelit utang,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Departeman Penerangan sampai Maret 1999 mengeluarkan ijin  siaran untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;delapan stasiun baru, enam diantaranya untuk siaran nasional.[21]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Persoalannya frekwensi yang tersedia untuk siaran nasional tinggal satu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan kemudahan memperoleh ijin menerbitkan media, berakibat muncul konflik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;manajemen di sejumlah media. Misalnya, sebagian awak majalah Gatra hengkang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mendirikan Gamma (Desember 1998), aksi serupa juga terjadi di harian Suara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pembaruan dengan terbitnya Suara Bangsa. Koran tertua Merdeka yang sebagain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sahamnya diambil oleh oleh Jawa Pos Grup, ternyata menjadi bumerang,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;manajemen milik Dahlan Iskan itu kemudian menerbitkan Rakyat Merdeka setelah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;muncul ketidaksepahaman dalama manajerial.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Era kebebasan pers juga memunculkan ekses-ekses sensasionalisme, banyak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tabloid baru menulis laporan spekulatif dan tidak mengindahkan kode etik,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;termasuk ramainya penerbitan media yang mengusung erotisme (cenderung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pornografis). Sejumlah pemimpin redaksi tabloid erotis sempat di seret ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pengadilan pada Juni 1999, termasuk pemimpin redaksi majalah Matra,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Riantiarno, yang divonis hukuman percobaan. Gaya jurnalisme agresif misalnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dipraktekkan oleh tabloid Warta Republik secara vulgar. Tabloid baru itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pada terbitan edisi Desember 1999 melaporkan “persaingan” mantan Wakil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Presiden, Try Sutrisno, dan mantan Menteri Pertahanan, Edy Sudrajat,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;memperebutkan cinta seorang janda. Laporan itu semata-mata bersandar pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;rumor, Warta Republik  tidak berupaya melakukan konfirmasi atau wawancara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kepada tiga figur tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;           Kebebasan pers Indonesia, kemudian, banyak dikecam sebagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“kelewat batas” dan chaotic. Keprihatinan terhadap rendahnya penghargaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pada etika pers, khususnya untuk tabloid-tabloid baru, ramai disuarakan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagai reaksi atas kondisi pers yang  terkesan liar dan tak terkontrol itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bermunculan lembaga-lembaga yang menerbitkan jurnal pengawas media (media&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;watch)[22]. Pada saat yang sama pers Indonesia memang tidak memiliki lembaga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang mampu mengawasi etika pers. Dewan Pers (bentukan pemerintah), yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seharusnya  berfungsi sebagai lembaga pengontrol, tidak bisa berfungsi,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;karena kehilangan legitimasinya.[23]  Untuk merespon suara kecaman terhadap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pers itu, Dewan Pers bersama sejumlah organisasi wartawan berupaya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;merumuskan kode etik bersama—yang menjadi patokan untuk seluruh organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan. Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) itu, setelah melalui  proses&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;perdebatan yang cukup panjang, akhirnya bisa disepakati dan ditandatangani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;oleh wakil dari 26 organisasi wartawan pada 6 Agustus 1999.[24]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;               Sementara itu, masyarakat pers Indonesia, sejak bergulirnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;reformasi mulai menggagas untuk menyusun Undang-undang Pers baru guna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;membentengi kemerdekaan pers yang diperoleh. Sejumlah aktivis, pakar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;komunikasi, wartawan dan pengurus organisasi  pers, pada akhir 1998&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;membentuk forum Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) yang kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menjadi motor penyusunan UU Pers baru.  Setelah melalui rangkaian diskusi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan lobi panjang, akhirnya disahkan Undang-Undang No 40 tahun 1999 tentang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers (UU Pers 1999) pada 23 September 1999.[25]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;           Dalam UU Pers 1999, Bab V Pasal 15, disebutkan tentang perlunya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dibentuk Dewan Pers yang independen sebagai upaya mengembangkan kemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pers. Selanjutnya Dewan Pers (lama) memfasilitasi proses pembentukan Dewan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers Baru yang beranggotakan wakil-wakil wartawan, perusahaan pers dan tokoh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;masyarakat. Proses pembentukan Dewan Pers baru cukup rumit, khususnya dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menentukan perwakilan dari  wartawan, mengingat besarnya jumlah organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;wartawan. Terdapat 121 nama calon anggota Dewan  Pers yang diajukan  oleh 33&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;organisasi wartawan dan tujuh organisasi perusahaan pers. Akhirnya, pada 22&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Februari 2000 Badan Pekerja memutuskan sembilan nama sebagai pengurus Dewan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers periode 2000-2003.[26]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pers dalam Ancaman Massa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;           Pers Indonesia memasuki fase baru, setelah sekian lama terpuruk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dalam cengkeraman kontrol kekuasaan Soeharto, kini cengkeraman itu berwujud&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;melalui ancaman publik. Tekanan dan ancaman di era Soeharto sangat efektif&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;meskipun tidak langsung (remote) sedangkan ancaman massa bersifat fisik,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sehingga lebih nyata. Pemakaian sarana koersif  untuk menekan dan mengancam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pers melalui pencabutan SIUPP meskipun lebih fatal, tetap terasa bukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ancaman nyata, sementara ancaman kekerasan dan teror massa  jauh lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;konkrit dampaknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;               Era reformasi telah membuka kesempatan bagi pers Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk mengekplorasi kebebasan. Dampak yang  kemudian terlihat, kebebasan itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;untuk sebagian media, bukannya diekplorasi melainkan dieksploitasi. Sejumlah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kebingungan dan kejengkelan terhadap kebebasan pers di era reformasi ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bisa dipahami. Kini media bebas untuk mengumbar sensasi, informasi yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;diedarkan adalah yang bernilai jual tinggi, dikemas dengan gaya sensasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akibat ketiadaan otoritas yang memiliki kewenangan untuk menegur atau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menindak pers, maka “publik” kemudian menjalankan aksi menghukum pers sesuai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tolok ukur mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Era reformasi kini telah memproduksi media massa berorientasi populis,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengangkat soal-soal yang digunjingkan masyarakat. Akibatnya seringkali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;media massa menyebarkan informasi yang sebenarnya berkualifikasi isu, rumor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bahkan dugaan-dugaan (hingga cacian dan hujatan). Pada ekstrim yang lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;terdapat pula pers yang diterbitkan untuk tujuan politis: mempengaruhi dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;membujuk pembacanya agar sepakat dan ikut dengan ideologi dan tujuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;politisnya, atau bahkan menyerang dan membungkam pihak lawan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Media massa sebagai penyalur informasi mengemas apapun yang bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;diinformasikan, asalkan itu menyenangkan dan sedang menjadi gunjingan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;publik. Gaya media semacam ini kemudian mendapat reaksi sepadan dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kelompok masyarakat tertentu yang cenderung radikal dan tertutup, atau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kelompok-kelompok yang mengklaim kebenaran sebagai milik mereka. Jika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pemberitaan media tidak menyenangkan pihaknya atau kelompoknya, maka jalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pintasnya adalah melabrak dan mengancam—yang ternyata memang terbukti sangat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;efektif.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;           Kasus pendudukan Jawa Pos (6 Mei 2000) menunjukkan, betapa pers&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tidak berdaya manakala gerombolan orang (massa Banser NU) memaksakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pendapatnya terhadap koran tersebut. Jawa Pos bertekuk lutut dan tergopoh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;meminta maaf, menyatakan pemberitaannya salah. Tidak ada pengujian secara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;adil dan logis menyangkut kesalahan  atau  ketidaksalahan Jawa Pos terhadap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;berita menyangkut Presiden Abdurrahman Wahid atau NU.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div  style="text-align: center; font-family: arial;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;           Kisah lain menimpa SCTV, stasiun TV swasta itu harus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghentikan  penayangan opera sabun yang sangat populer, Esmeralda, setelah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;60 orang dari Front Pembela Islam (FPI) berunjukrasa ke SCTV (4 Mei).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Telenovela  itu dianggap secara sengaja menghina Islam, memberikan gambaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;palsu dan menyesatkan kepada penontonnya, karena salah satu tokoh dalam film&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tersebut bernama Fatimah. Di kalangan Islam, Fatimah dikenal sebagai nama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;putri Nabi Muhammad SAW dan figur yang dihormati, sementara Fatimah dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Esmeralda merupakan antagonis yang berperangai buruk. Tawaran SCTV untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengganti nama tokoh Fatimah ditolak FPI, vonis telah diputus: Esmeralda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang digemari banyak penonton itu tidak boleh disiarkan[27].&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebelumnya sejumlah wartawan dan media  sempat merasa terteror dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;perangai kelompok yang menamakan diri Laskar Jihad. Organisasi ini  telah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengancam, melakukan kekerasan terhadap wartawan yang ingin meliput&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kegiatannya. Selain mengancam secara fisik maupun teror psikologi, laskar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;yang gemar mengacungkan pedang itu juga diskriminatif terhadap wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;perempuan dan wartawan non muslim. Tiga wartawan sempat disekap dan dianiaya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di lokasi kamp latihan mereka di Desa Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bogor (9 April)[28].&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tabloid Semanggi beberapa waktu sebelumnya pernah diancam dibakar oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Laskar Jihad karena pemasangan foto kelompok ini pada edisi No. 19. Laskar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ini merasa tersinggung karena fotonya dimuat dalam pemberitaan  mengenai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;NII. Laskar Jihad menuntut agar tabloid Semanggi meminta maaf dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mengklarifikasi. Ancaman serupa menimpa harian Radar Bogor. Koran ini, pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9 April, didatangi satu truk anggota Laskar Jihad dengan membawa senjata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pedang dan pisau komando. Mereka marah karena Radar Bogor dinilai telah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menyebarkan berita yang mengadu domba antara laskar jihad dengan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kayumanis (lokasi latihan) dan aparat keamanan setempat. Tekanan massa Front&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemuda Islam Surakarta (FPIS) terhadap Radio PTPN Rasitania, Solo, sempat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghentikan siaran radio tersebut selama 27 jam. Sekitar 300 anggota FPIS&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;protes atas siaran dialog interaktif berjudul “Usaha Mengatasi Konflik Antar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Umat Beragama” pada 24 Februari.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Epilog: Pers Mengatur Sendiri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kebebasan memunculkan berbagai persoalannya sendiri, yang lebih kompleks&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ketimbang era tirani kekuasaan.. Kebebasan Pers yang kini berkembang di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Indonesia, telah ditanggapi secara negatif oleh sejumlah pihak, karena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dianggap telah “bebas terlampau jauh”.  .Ekses negatif kebebasan pers saat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ini terlihat semakin nyata dengan banyak bermunculannya media partisan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sensasional, termasuk yang menonjolkan erotika. Fenomena lainnya adalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;munculnya banyak media yang mengusung asas jurnalisme alakadarnya dan kurang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menghargai etika. Banyak pula muncul  pemodal melakukan akrobat dalam bisnis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pers: menerbitkan media, dua bulan kemudian ditutup lantaran tidak laku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kemudian menerbitkan media baru lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre style="font-family: arial;font-family:times new roman;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Seserius apakah ekses negatif kebebasan pers saat ini? Memang ada soal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;ketika  menyangkut pemberitaan konflik antar golongan atau etnis (seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;kasus Ambon), sebagian media telah memposisikan diri sebagai corong kelompok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tertentu. Ada pula media yang diterbitkan semata-mata sebagai alat menyerang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;atau membela orang-orang tertentu. Namun justru itu lah resiko demokrasi:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;munculnya sejumlah pers yang buruk. Sebagaimana bertebaran pula&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;gagasan-gagasan buruk.  Tantangan di Indonesia kini adalah, pers yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;bermutu dituntut untuk mengarahkan dan memperluas pembacanya, justru agar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;masyarakat tidak membaca media yang buruk. Agar dalam market place of  ideas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;ide-ide baik menang terhadap gagasan buruk.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Setelah halangan struktural kebebasan pers (regulasi pemerintah) berhasil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;disingkirkan, maka kebebasan pers itu semata-mata berhadapan dengan batas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;toleransi masyarakat. Opini publik lah yang  akan membatasi, sejauh mana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pers boleh bebas Tidak bisa dielakkan bakal ada benturan kepentingan dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;memunculkan ketidakpuasan satu pihak  Ketika kebebasan berpendapat seseorang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;merugikan pihak lain, maka satu-satunya penyelesaian adalah melalui&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pengadilan—yang diharapkan bisa mengeluarkan keputusan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;bijaksana—setelah melalui perdebatan yang luas. Sayangnya, ditengah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;kegandrungan terhadap kebebasan yang menggebu saat ini, hukum belum siap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;mengantisipasinya--baik hukum untuk menggebuk pelaku kekerasan maupun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;menindak media yang kurang ajar. Akibatnya tirani masih bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;bersimaharajalela, dan pers menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;kejengkelan akan kebebasan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Situasi itu merupakan produk langsung dari hukum yang vakum. Bukan saja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;aparatnya sedang kehilangan wibawa, melainkan perangkat aturannya juga belum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tersedia secara memadai. Oleh karena itu, pers Indonesia dituntut untuk bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;mengatur atau mengontrol sendiri (self regulated), sesama sejawat pers&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;saling mengingatkan. Atau setidaknya mematuhi ketentuan yang diatur dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;kode etik pers, dan menempatkan lembaga semacam Dewan Pers menjadi “polisi”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;yang diikuti teguran atau peringatannya. Jika tidak, apa boleh buat, kontrol&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;masyarakat, seperti pendudukan kantor media, akibat tidak puas atas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pemberitaan pers bakal akan terus terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;* Penulis adalah Country Direktur Southeast Asian Press Alliance (SEAPA),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[1] Istilah bahasa Jawa yang berarti “melewati batas”  ini kemudian menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;sangat popular untuk menghujat Pers secara keseluruhan. Misalnya dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;seminar “Media dan Pemerintahan: Mencari Jalan Keluar” (di Jakarta, 23-24&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Maret 1999),  soal pers yang kebablasan ini nyaring disuarakan, oleh para&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;wakil rakyat dan pejabat, sejumlah wartawan, yang hadir dalam seminar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tersebut-- termasuk usulan agar sistem perijinan (SIUPP) diperketat kembali,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Seminar besar yang melibatkan aparat pemerintah, pers dan masyarakat  ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;diselenggarakan atas kerjasama UNESCO, Departemen Penerangan dan Komunitas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[2] Pada era Soeharto, Departemen Penerangan,  menjadi mesin birokrasi yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;sangat berkuasa. Dengan wewenang mengontrol media (dalam dan luar negeri),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;menerapkan sensor, melarang terbit, menentukan siapa yang boleh  dan tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;boleh memiliki ijin untuk menerbitkan media, termasuk siapa yang boleh dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tidak boleh menjadi pemimpin redaksi media, melarang masuk atau  membatalkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;visa wartawan asing yang tidak disukai. Departemen Penerangan kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;bahkan menjadi “kerajaan  bisnis”  pada era  Menteri Penerangan dijabat oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Harmoko (periode 1983-1997), dengan memperjualbelikan ijin penerbitan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;(SIUPP) serta meminta saham kosong kepada pers yang diberi ijin terbit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Meskipun demikian dibawah Menteri Junus Josfiah (Mei 1998-Oktober 1999),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Departemen Penerangan berubah menjadi lembaga yang progresif dalam mendukung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;dan memfasilitasi kebebasan pers.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[3] Abdurrachman Surjomihardjo (red), Beberapa segi Perkembangan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Pers di Indonesia, LEKNAS-LIPI, 1980, hal. 145-146&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[4] ibid. hal. 148-149&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[5] Dari aturan ini lah kemudian muncul istilah popular dalam kosa kata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Bahasa Indonesia “bredel”, yang berarti pelarangan terbit untuk sementara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;atau selamanya terhadap media yang dinilai melanggar aturan pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[6] Penpres ini baru dicabut secara resmi setelah lahir UU Pokok Pers 1966,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;undang-undang pertama yang mengatur pers Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[7] Soebagijo I.N, Sejarah Pers Indonesia, Jakarta: Dewan Pers, 1977, hal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;181&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[8] Penerbitan pers yang ditutup adalah: Indonesia Raya, Pedoman, Abadi,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Harian KAMI, Nusantara, Jakarta Times, Mingguan Wenang, Pemuda Indonesia,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Majalah Ekspress (Jakarta), Suluh Berita (Surabaya), Mingguan Mahasisswa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Indonesia (Bandung), dan Indonesia Pos (Ujung Pandang). Lihat Ignatius&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Haryanto, Pembredelan Pers di Indonesia: Kasus Koran Indonesia Raya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Jakarta: LSPP, 1996.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[9] Bredel melalui telepon ini dilakukan oleh Kepala Dinas Penerangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Laksusda Jaya, yang memberitahukan pada tanggal 20 Januari 1978 malam bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pada hari berikutnya (per 21 Jnuari) Koran-koran  yang bersangkutan dilarang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;terbit . Keputusan tertulis, katanya, akan dikeluarkan Departemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Penerangan. Namun, sampai Koran-koran itu diijinkan terbit kembali—dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;minggu kemudian—keputusan tertulis mengenai pelarangan terbit dan alasannya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tidak pernah dikeluarkan. LihatAbdurrachman Surjomihardjo. opcit. Hal..171&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[10] Lihat Atmakusumah, Kebebasan Pers dan Informasi, hal. 99-100, dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Mulya Lubis (ed.), Langit Masih Mendung: Laporan Keadaan Hak-hak Asasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Manusia di Indonesia 1980, Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum dan Pustaka Sinar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Harapan, 1981.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[11] Kurniawan Junaedhie, Ensiklopedi Pers Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;1991.  hal. 145-146&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[12] Lihat Lukas Luwarso, The Liberation of The Indonesian Press, dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;News in Distress: The Southeast Asian Media in A Time of Crisis, Philipine&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Center for Investigative Journalism &amp;amp; Dag Hammarskjold Foundation, 1999. hal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;91-99.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[13] Ibid. hal. 95&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[14] Rizal Mallarangeng. Pers Orde Baru: Tinjauan Isi Harian Kompas dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Suara Karya. Fisipol UGM dan Rajawali Pres, 1992.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[15] Sebagian wartawan AJI yang medianya dibredel, apabila  ingin bekerja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;lagi sebagai wartawan harus meminta  maaf pada PWI. Banyak wartawan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;cuma  bersimpati, namun mengakui tak berani terlibat dalam AJI. Karena jika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;ketahuan menjadi anggota AJI, risikonya adalah dipecat atau disingkirkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;dari tugas kewartawanan. Atau lebih buruk lagi dipenjara. Sedikitnya enam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;anggota AJI dipenjara,  empat karena menerbitkan majalah bawah tanah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Independen, dua lainnya karena aktivitas  liputannya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[16] Larangan terbit Independen diumumkan bersama larangan sejumlah buku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;termasuk bulletin Kabar dari Pijar (Kdp).  Itu artinya bagi siapapun yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;diketahui membaca Independen, bisa dikenai hukum.  Pelarangan itu disertai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;dengan penangkapan tiga anggota AJI, Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Kukuh Wardoyo, serta pemimpin redaksi Kdp, Tri Agus Siswodihardjo.   Mereka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;diadili dan dihukum dua sampai tiga tahun penjara. Kantor AJI dan Pijar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;digeledah aparat keamanan, sejumlah pengurus AJI dan Pijar diburu aparat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;intelejen, dan terpaksa bersembunyi. Independen  beberapa bulan kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;diterbitkan kembali dengan nama Suara Independen, menjadi majalah bawah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;tanah, baik pengelolaan maupun peredarannya.   Suara Independen  semakin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;dicari dan ditunggu kehadirannya--termasuk diburu aparat keamanan. Pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pertengahan 1996 majalah itu kembali “meminta korban”. Andi Syahputra,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;distributor Suara Independen, yang tidak tahu menahu soal isi majalah itu,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;ditangkap dan dihukum 30 bulan penjara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[17] Presiden Soeharto tidak suka dengan cara pers memberitakan berbagai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;aksi unjuk rasa, menurutnya  pers memberikan disinformasi. “Di  Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;ini seolah-olah kejadiannya hanya demonstrasi mahasiswa, tetapi tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;disebutkan hal-hal lain,” kata Menteri Penerangan Alwi Dahlan merujuk pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;pernyataan Presiden Soeharto. Kompas, 17 Aprol 1998.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[18] Lihat Pers Diterpa Krisis, Laporan Tahunan 1997/1998, Jakarta Aliansi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Jurnalis Independen dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, 1998.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[19] Pada 6 Juni 1997, posisi Menteri Penerangan berganti sebelum habis masa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;jabatan. Harmoko yang telah tiga periode menjabat Menteri Penerangan diganti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;oleh Jendral Hartono--sebelumnya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Pergantian ini, menurut analisa, merupakan indikasi ketidakpercayaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Presiden Soeharto terhadap Harmoko, yang belakangan dinilai gagal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;“mengendalikan” pers. Harmoko diberi posisi sebagai Menteri Negara Urusan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Khusus (Juni 1997-Oktober 1997), sebelum akhirnya menjadi Ketua DPR/MPR.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[20] Jumlah ini merupakan data terakhir Departemen Penerangan per Oktober&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;1999. Banyak diantara organisasi wartawan baru tersebut  hanya tercatat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;dalam daftar, selanjutnya tidak terdengar aktivitasnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[21] Mereka adalah Metro TV dikelola  PT Media Televisi Indonesia (Grup&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Surya Persindo milik Surya Paloh), Trans TV dikelola  PT Televisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Transformasi Indonesia (Grup Para milik Chairul Tanjung), PT Pasaraya Media&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Karya (Alatief Corporation milik Abdul Latief), PT Telesindo Prima Lestari,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;PT Cakrawala Tiara Kencana dan PT Tifar Admanco. Dua stasiun lagi memilih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;siaran local (PT Pupuk Kaltim) dan siaran internasional (IFTIHAR). Lihat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Pers Indonesia Pasca-Soeharto, Laporan Tahunan 1998/1999, Jakarta: Aliansi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Jurnalis Independen dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, 1999, hal. 52.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[22] Sejumlah jurnal dan lembaga pengawas media yang cukup aktif  antara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;lain: Independen Watch (AJI), Bakorpers, Pantau (ISAI), Media Development&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Centre,  Media Ramah Keluarga,  Lembaga Konsumen Pers, LSPS (Surabaya)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;KIPPAS (Medan),  LSIM (makasar), Lespi (Semarang)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[23] Ketua Pengurus Harian Dewan Pers, Jakob Oetama, secara informal sempat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;menyatakan bahwa Dewan Pers  lama  “membubarkan diri” (demisioner, sampai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;terbentuknya Dewan Pers baru yang Independen) dan meminta maaf atas kiprah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Dewan Pers di era Soeharto. Hal itu dikemukakan dalam sambutan pidato pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Rapat Koordinasi antara Dewan Pers dan organisasi-organisasi wartawan di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Bandung, Maret 1999. Rapat koordinasi tersebut bertema: “Dengan Semangat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Reformasi Kita Wujudkan Kebebasan Pers Nasional.”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[24] KEWI bersifat ringkas dan padat, terdiri dari tujuh pasal, waktu yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;diperlukan  sejak awal  sampai pada rumusan akhir hampir selama tujuh bulan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[25] UU Pers 1999 ini menurut Toby Mendel dari Article XIX,  Inggris,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;merupakan salah satu UU Pers yang terbaik di Asia,  karena isinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;mencerminkan ketegasan dalam menjamin kemerdekaan pers.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[26]  Pengurus Dewan Pers 2000-2003 adalah Atmakusumah Astraatmadja (Ketua),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;R.H. Siregar (wakil), Atang Ruswita, Azkarmin Zaini, Benjamin Mangkoedilaga,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, Surya Paloh, Zainal A Suryokusumo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Kepengurusan ini disahkan oleh SK Presiden No. 96/M tahun 2000 pada 19 April&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;2000.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[27] Jakarta Post, 12 Mei 2000, halaman 2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;[28] Setelah menganiaya, mereka dikabarkan juga mengancam akan membunuh para&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;wartawan ini jika membeberkan tindak kekerasan itu di media massa. Ketiga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;wartawan itu masing-masing Usman Asyari (senior produser BBC Indonesia),&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Victor Cahyadi (AFP) dan Hinarius (freelance). Ketiga wartawan tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;datang ke lokasi latihan itu bermaksud mewawancarai Komandan Laskar Jihad,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Jafar Umar Thalib.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Didistribusikan tgl. 28 Aug 2000 jam 05:59:46 GMT+1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;oleh: Indonesia Daily News Online &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a href="http://www.indo-news.com/"&gt;http://www.Indo-News.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;!--X-Body-of-Message-End--&gt;&lt;!--X-MsgBody-End--&gt;&lt;!--X-Follow-Ups--&gt;&lt;!-- end of msgBody class --&gt;      &lt;!--htdig_noindex--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;" id="adbox"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="tSliceList"&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="sliceCur"&gt; &lt;span class="subject"  style="font-size:85%;"&gt;[INDONEWS] FW: Sejarah Pers Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="sender"  style="font-size:85%;"&gt;INDONews (s)&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!-- end of tSliceList class --&gt;&lt;!--/htdig_noindex--&gt;&lt;!--X-Follow-Ups-End--&gt;&lt;!--X-References--&gt;&lt;!--X-References-End--&gt;&lt;!--X-BotPNI--&gt;      &lt;!--htdig_noindex--&gt;   &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;" id="botLinks"&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="reply"&gt; &lt;form method="post" action="/mailto.php"&gt;   &lt;input name="subject" value="[INDONEWS] FW: Sejarah Pers Indonesia" type="hidden"&gt; &lt;input name="msgid" value="200008280352.e7S3q5X15867@KotakPos.Net" type="hidden"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Reply via email to&lt;/span&gt;&lt;/form&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1361668496946758468-3829161598846072106?l=zul16.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/3829161598846072106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1361668496946758468&amp;postID=3829161598846072106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/3829161598846072106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/3829161598846072106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/2009/01/pers-indonesia-pergulatan-untuk.html' title=''/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1361668496946758468.post-8015415674759287555</id><published>2009-01-28T05:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T06:47:59.283-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYBkTrRp3dI/AAAAAAAAACI/ELTVddm4Npc/s1600-h/bak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYBkTrRp3dI/AAAAAAAAACI/ELTVddm4Npc/s200/bak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296343450984766930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYBwBXiGtVI/AAAAAAAAACQ/_JmQa_oQSmw/s1600-h/mag.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYBwBXiGtVI/AAAAAAAAACQ/_JmQa_oQSmw/s200/mag.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296356330586944850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;" class="post-title"&gt; &lt;a href="http://zulkilikaryasnusantara.blogspot.com/2009/01/alians-i-jurnalis-ind-ependen-aji.html"&gt;PERHIMPUNAN JURNALIS INDO&lt;/a&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-1229887256"&gt; &lt;a href="http://zulkilikaryasnusantara.blogspot.com/post-edit.g?blogID=1361668496946758468&amp;amp;postID=6031755471186964630" title="Edit Post"&gt; &lt;span class="quick-edit-icon"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;" class="date-header"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=27&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://ajiindonesia.org/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;Aliansi Jurnalis Independen&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;AJI adalah anggota International Federations Journalist (IFJ) dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), dan International Freedom of Expression Exchange (IFEX).&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 18:56:32 (740 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=28&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://www.jurnalis-indonesia.com/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;Home - jurnalis-indonesia.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PWI-Reformasi adalah organisasi profesi Wartawan yang lahir dari kancah roformasi tahun 1998. Akumilasi kekecewaanatas kehadiran pemerintah Orba yang memberangus kebebasan pebermuara pada keinginan untuk mereformasi PWI sebagai wadah tunggal wartawan yang&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 19:00:04 (1441 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=26&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://jurnalis-indonesia.blogspot.com/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;Jaringan Jurnalis Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena ada permintaan dari Ismet hasan Putro untuk tidak menggunakan PJI, maka blog ini bernama Jaringan Jurnalis Indonesia (what S in a name). J2I adalah gerakan refitalisasi organisasi profesi wartawan nasional, berbasiskan prinsip-prinsip;profesionalis&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 18:54:37 (867 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=43&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://www.jurukabar.com/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;JuruKabar.Com : Media Mogul&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Where the dialog among Indonesian journalists begin.&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 19:55:31 (671 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=30&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://www.mfdi-aji.org/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;MEDIA FOR DEMOCRACY IN INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Website ini didukung oleh Komisi Eropa melalui program European Initiative for Democracy and Human Rights. Isi sepenuhnya menjadi tanggungjawab AJI.&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 19:06:12 (393 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=44&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://www.pjinews.com/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;PERHIMPUNAN JURNALIS INDONESIA (PJI)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat PJINews.com Jl. Duren Tiga Selatan No 6 Jakarta Selatan DKI Indonesia 12750 (021) 799 1015 (021) 794 4828&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 20:02:09 (761 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="itemlink"&gt;&lt;a href="http://e-majalah.com/mod.php?mod=katalog&amp;amp;op=visit&amp;amp;lid=29&amp;amp;PHPSESSID=27cbb3404c7be1fd6a343afaa692e453" target="blank" onmouseover=" window.status='http://jurnalis.net/'; return true" onmouseout="window.status=' '; return true"&gt;Wartawan-Wartawati Indonesia Jurnalis&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Forum Wartawan-Wartawati Indonesia Journalis&lt;br /&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Friday, February 08, 2008 19:02:11 (720 clicks)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="bookmark-button"&gt; &lt;a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?pub=LJ1NB32EF870N8FW&amp;amp;url=http://zulkilikaryasnusantara.blogspot.com/2009/01/alians-i-jurnalis-ind-ependen-aji.html&amp;amp;title=PERHIMPUNAN%20JURNALIS%20INDO" target="_blank" title="Bookmark using any bookmark manager!"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1361668496946758468-8015415674759287555?l=zul16.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zul16.blogspot.com/feeds/8015415674759287555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1361668496946758468&amp;postID=8015415674759287555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/8015415674759287555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1361668496946758468/posts/default/8015415674759287555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zul16.blogspot.com/2009/01/perhimpunan-jurnalis-indo-senin-2009_28.html' title=''/><author><name>ZulkiliKsN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01477641777276677497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYm0tZFCwiI/AAAAAAAAAEY/reN4KilFq3I/S220/magazine437338.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L_XscSJ0tc0/SYBkTrRp3dI/AAAAAAAAACI/ELTVddm4Npc/s72-c/bak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
